Responsive Ads Here

Wednesday, April 30, 2014

King Solomon vs Sanghyang Wenang

Menyambung postingan yang lalu tentang kisah Nabi Sulaiman yang kehilangan cincin. Kali ini saya akan melengkapi kisah tersebut. Pada kebanyakan riwayat tidak dijelaskan siapa yang mencuri cincin nabi Sulaiman. Di riwayat-riwayat tersebut hanya menyebutkan syetan atau jin ifrit.

Saya akan memberikan clue kepada Anda. Sebenarnya si pencuri itu sudah disebutkan di dalam riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbih. Di saat isteri Sulaiman anak dari Raja Yunani yang bersedih dan minta dibuatkan patung ayahnya, Nabi Sulaiman menyuruf Jin Ifrit  Shakhr al-Marid untuk membuat patung seperti ayah putri Yunani tersebut. Kecanggihan patung buatan Jin Ifrit Shakhr al-Marid ini hampir mirip dengan manusia asli dan maksud dari hampir-hampir bersuara mungkin patung-patung ini dapat bercakap-cakap, kalau sekarang mungkin seperti robot. Sepertinya Jin Ifrit Shakhr al-Marid ini merupakan Jin kepercayaan Nabi Sulaiman karena ilmunya dan kepandaiannya yang tinggi, akan tetapi di dalam riwayat Wahab bin Munabbih tidak disebutkan secara eksplisit  bahwa yang mencuri adalah Jin Ifrit Shakhr al-Marid ini.

Serat Paramayoga
Dari mana saya mengambil kesimpulan ini? Saya tidak mengambil kesimpulan sendiri, akan tetapi sudah diceritakan dalam lakon-lakon pewayangan tradisional kita. Lakon yang berasal dari Serat Paramayoga menceritakan perseteruan antara Sang Hyang Wenang, salah satu dewa leluhur orang Jawa bersitegang dengan Nabi Sulaiman Raja Bani Israil.

Berseteru dengan Nabi Sulaiman
Diceritakan, bahwa Sanghyang Wenang merupakan anak dari Sanghyang Nurassa, karena berbakat dia mewariskan seluruh ilmu kesaktian ayahnya dan Sanghyang Wenang terpilih sebagai ahli waris Kahyangan Pulau Dewa.

Sama seperti kakeknya, Sanghyang Wenang juga gemar bertapa dan olah rasa. Segalam macam tempat keramat ia datangi, segalam macam tapa ia jalani. Ia kemudian membangun istana melayang di atas Gunung Tunggal, sebuah gunung tertinggi di Pulau Dewa. setelah  300 tahun bertakhta, akhirnya ia dipertuhankan oleh seluruh jin di pulau tersebut.

Ilustrasi: Pasukan Jin
Suatu ketika Nabi Sulaiman yang merupakan keturunan Sayyid Anwas (Sanghyang Wenang keturunan Sayyid Anwar) merasa heran karena jumlah tentara jin pengikutnya berkurang jumlahnya secara signifikan. Ternyata ada laporan bahwa para jin tersebut banyak yang berpindah mengabdikan diri dan mempertuhankan Sanghyang Wenang di Pulau Dewa. Nabi Sulaiman memutuskan untuk menaklukan Sanghyang Wenang.

Pasukan jin pun dikirimnya dengan dipimpin oleh senapati bernaka Sakar (Shakhar al-Marid). Sesampainya di Pulau Dewa, pertempuran besarpun meletus. Pada awalnya pasukan jin Nabi Sulaiman unggul, akan tetapi keadaan berbalik setelah Jin Sakar menyerah kalah pada kesaktian Sanghyang Wenang, Jin Sakar ganti mengabdikan diri kepada Sanghyang Wenang. Sanghyang Wenang sangat menyukai senapati jin tersebut. Ia bahkan mengangkat Sakar sebagai murid dan mengajarinya ilmu kesaktian.

Sanghyang Wenang (varian Yogya)
Pada suatu hari Sanghyang Wenang bertanya tentang bertanya tentang rahasia kesaktian Nabi Sulaiman. Sakar menjawab Nabi Sulaiman memiliki sebuah pusaka pemberian Tuhan bernama Cincin Maklukatgaib.

Sanghyang Wenang tertarik ingin memiliki cincin tersebut. Jin Sakar pun diutusnya untuk mencuri cincin itu. Dengan cara menyamar sebagai Nabi Sulaiman, Sakar berhasil menyusup ke dalam istana Bani Israil. Dengan kepandaiannya, Sakar berhasil mencuri Cincin Maklukat Gaib. Karena kehilangan pusakanya, Nabi Sulaiman jatuh  sakit dan mengurung diri. Hal ini dimanfaatkan oleh Sakar untuk memperpanjang penyamarannya sebagai Sulaiman palsu, dan memerintah negeri dengan sesuka hatinya.

Firman Allah SWT:
"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat". (QS 38:34).

Lama-lama Sakar teringat kalau kedatangannya hanya untuk mencuri Cincin Maklukat gaib. Ia pun melesat pergi meninggalkan istana Banisrail, kembali menuju Pulau Dewa. Akan tetapi di tengah jalan, Cincin Maklukat Gaib jatuh ke dasar laut dan hilang tak bisa diketemukan lagi. Jin Sakar tiba di hadapan Sanghyang Wenang melaporkan  kegagalannya.  Sanghyang  Wenang  menyadari  kalau  Cincin Maklukatgaib ternyata memang ditakdirkan bukan menjadi miliknya.

Nabi Sulaiman yang masih sakit parah mendapat petunjuk Tuhan tentang keberadaan Cincin Maklukat gaib dan siapa pencurinya. Setelah menemukan kembali cincin tersebut, Sulaiman sembuh dari sakitnya dan mempersiapkan hukuman untuk Sakar dan pasukannya. Sulaiman kemudian memerintahkan para prajuritnya dari bangsa manusia untuk memasang tumbal (mungkin bom nuklir skala kecil) di segenap penjuru Pulau Dewa. 

Tujuh hari kemudian Pulau Dewa meledak. Pulau yang semula berjumlah dua yaitu Lakdewa dan Maldewa tersebut akhirnya pecah menjadi ribuan pulau kecil[1]. Para jin berhamburan karena bencana yang terjadi. Sementara Sanghyang Wenang sekeluarga memutuskan untuk mengungsi ke dasar bumi. Beberapa tahun kemudian, setelah Nabi Sulaiman meninggal dunia, Sanghyang Wenang kembali muncul di permukaan. Karena keadaan Pulau Dewa telah hancur lebur, Sanghyang Wenang memutuskan untuk membangun kahyangan baru di puncak Gunung Tengguru di wilayah Pegunungan Himalaya.
 
Referensi:
- Serat Paramayoga oleh R. Ng. Ronggowarsito

[1] Maladewa adalah negara kepulauan yang terletak di Samudera Hindia atau terletak di sebelah selatan-barat daya India, sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka. Maladewa memiliki 26 Atol yang terbagi menjadi 20 Atol Administratif dan 1 Kota. Jumlah kepulauan yang terdapat pada 26 Atol sekitar 1.190 pulau.


1 comment: